Monday , October 19 2020

3 Tips Sentral Mengasuh Anak

Anak dilahirkan ke dunia tidak dilengkapi dengan sebuah buku panduan. Mengasuh anak seperti layaknya sebuah ponsel baru. Mengasuh dan mendidik anak butuh proses berkesinambungan yang tidak pernah habis. Karena itu solusi yang perlu kita tempuh adalah perbaikan secara terus menerus. Baik secara teori maupun praktik.

Dalam parenting, ada 3 wilayah sentral yang harus kita perbaiki secara terus menerus:

1. Perlakuan

Inti dari perlakuan adalah bagaimana kita berinteraksi dan memperlakukan anak. Dari penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. dr. LK. Suryani, SpKJ, seorang ahli kesehatan jiwa dari Universitas Udayana, Bali, ternyata perkembangan sikap mental anak sangat dipengaruhi oleh intensitas interaksi dengan orang tua di rumah. Apakah ini berarti bahwa ibu-ibu yang tidak bekerja punya interaksi yang lebih baik dengan ibu yang menjadi wanita karier? Jawabannya belum tentu.

Interaksi komunikasi yang baik tidak identik dengan kuantitas melainkan kualitas. Biarpun sehari-hari kita bersama mereka, tapi kalau model komunikasi yang terbangun lebih sering diwarnai pertengkaran, kemarahan, saling mempertahankan egoisme, bisa-bisa malah menyumbangkan sikap mental negatif.

Intensitas komunikasi yang baik dan dapat membangun mentalitas positif anak memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  • Disemangati oleh kepedulian dan perhatian, bukan oleh amarah, atau oleh dorongan unjuk diri dengan power sebagai orang tua.
  • Dilakukan dalam suasana dialogis dan eksploratif, atau saling bertukar dan berbagi pikiran dan pengalaman, bukan dengan berdebat atau menghakimi.
  • Dibekali pengetahuan tentang kelebihan dan kekurangan si anak secara objektif.

Orang tua yang sudah berpandangan negatif atau merendahkan anaknya dipastikan sangat sulit berkomunikasi secara harmonis dengan si anak, yang muncul adalah kekesalan dan kekecewaan lebih dahulu.

Anak-anak yang merasa dihargai di rumahnya, akan cepat mengatasi kebingungan peran yang dialami pada masa remajanya. Mereka akan betah di rumah dan tidak keluyuran mencari komunitas negatif yang menerima dirinya, seperti: geng motor, klub malam, klub motor, dll.

Bentuk penghargaan yang bisa kita lakukan (sebagai orang tua) antara lain: memberikan tanggung jawab khusus secara bertahap, melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan keluarga, memberikan kesempatan untuk beropini, dan meyakinkan bahwa kita selalu ada untuk membantu dan berada di pihaknya.

2. Penanaman

Penanaman nilai-nilai agama sejak usia dini, akan melengkapi kekurangan kita dalam mengasuh dan mendidik anak. Karena tidak ada orang tua yang mengasuh anak secara sempurna, nilai-nilai agama yang diajarkan sejak dini inilah yang melengkapi pendidikan karakter bagi anak. Dalam menanamkan nilai-nilai ini, tak melulu dengan metode ceramah. Cara kreatif untuk menanamkan nilai-nilai tersebut adalah dengan teladan, membuat anak merasa senang berbuat baik, dan merasa sedih jika telah berbuat tidak baik.

Nabi Muhammad Saw., memberi contoh agar kita semaksimal mungkin menafkahi anak dan keluarga kita dari rejeki yang halal. Selain itu kita juga diperintahkan untuk memperbanyak sedekah. Sedekah akan mengundang berbagai macam kebaikan, termasuk diberi rejeki halal dari sumber-sumber yang tak terduga. Beri teladan anak untuk berbagi buku kepada anak-anak jalanan, berbagi bekal dengan teman sekelasnya, dan hal-hal kecil lain yang dampaknya tidak kecil untuk membangun kebiasaan mereka untuk berbuat baik.

3. Pengontrolan

Pada praktiknya, penanaman moral saja masih kurang. Menurut Sigmund Freud, pakar psikoanalisis dunia, anak remaja masih banyak yang melakukan sesuatu atas dorongan suka atau tidak suka. Dalam pengertian, mereka belum sepenuhnya melakukan sesuatu atas pertimbangan baik, buruk atau berapa besar manfaat perbuatan ini untuk membentuk karakterku di masa depan? Dan pertimbangan logis lainnya.

About Bas