Thursday , October 22 2020

3 Cara yang Berbeda Menjadi Ayah

Ada tiga orang pria yang berbeda, masing-masing pulang ke rumah pada suatu petang. Ketiga pria tersebut bernama Alex (38), Rio (38), dan Bobby (38). Ketiga pria tersebut mempunyai dua orang anak, seorang laki-laki berumur 8 tahun, dan seorang perempuan berumur 10 tahun. Ketiga pria tersebut membawa koran sore, setelah membuka pintu dan memasuki rumah ketiganya berbeda dalam perannya sebagai seorang ayah.

Ayah pertama bernama Alex (38) pulang ke rumahnya, sebuah rumah susun di pinggiran kota Jakarta. Hari itu adalah hari ulang tahun Queency (10) puteri kecilnya.

“Selamat ulang tahun sayang!”

“Hai, Ayah,”balas Queency pelan.

“Jadi kamu sudah terima kado dari Ayah?” tanyanya untuk mencairkan keadaan.

“Ya, terima kasih.”jawab Queency.

“Jadi, bagaimana perasaanmu? Mbanya bilang, itu model boneka terbaru.

“Ya…Cuma, aku sudah tidak suka main boneka Barbie lagi.”jawab Queency.

“Oh begitu, tidak apa-apa, kamu dapat menyimpannya, kemudian kamu berikan ke anak-anak jalanan.”jawab Ayah.

“Hari ini, bagaimana kabarmu?” tanya Ayah.

“Baik.” jawab Queency.

“Bagaimana, sekolahmu?” tanya Ayah lagi.

“Baik-baik saja.”jawab Queency.

Dan begitulah pembicaraan itu berlanjut. Ayah berfungsi sebagai penanya, sementara putrinya menjawab seperlunya.

 

Ayah yang kedua bernama Rio (38), ia pulang ke rumah disambut harum masakan rendang yang menggoda selera.

“Hallo,”katanya kepada anak-anak yang sedang sibuk sendiri main tablet. Ia mencium kening kedua anaknya, kemudian pergi ke dapur untuk menolong istrinya menyiapkan makan malam bersama.

“Bagaimana sekolah?”tanyanya ketika anak-anak sudah duduk di meja makan.

“Baik,”jawab mereka serentak.

“Belajar sesuatu?”

“Ya…gitu deh,”gumam Queency.

“Aku membuat daftar perkalian,”kata Bara, puteranya.

“Bagus,”jawab sang Ayah, dan kemudian menoleh kepada istrinya. “Ceritakan apa ada orang yang meneleponmu menanyakan tagihan listrik dan air yang menunggak?”Tanya Ayah.

“Maukah Ayah mendengarkan hafalanku tentang perkalian empat?”sela Bara.

“Jangan sekarang Nak, jawab Ayahnya dengan cepat. Ayah sedang berbicara serius dengan mamamu.

Bara jadi terdiam, sementara orangtuanya membahas bagaimana solusi melunasi tunggakan tagihan listrik dan air. Tapi, ketiga ada jeda, anak laki-laki itu mencoba lagi. “Hai Ayah, maukah Ayah mendengarkan hafalan perkalian empatku?”tanya Bara (lagi).

“Tidak, habiskan dulu makanan di mulutmu, jawab Ayahnya dengan cepat. Tanpa berpikir panjang bocah itu meminum air untuk mengosongkan mulutnya. Ia mulai mendemonstrasikan hafalan perkalian empatnya. “Empat kali satu sama dengan empat, empat kali dua sama dengan delapan, empat kali tiga…”

Ayahnya dengan datar berkata,”Bagus sekali.”

“Maukah Ayah mendengarkan perkalian lima?”tanya Bara (lagi).

“Nanti saja. Sekarang kamu main dengan kakakmu, Ayah mau berbicara serius dengan mamamu.”jawab Ayah.

Ayah yang ketiga Bobby, membuka pintu dan menemui situasi yang sama dengan ayah kedua. Istrinya sedang memasak fu yung hai, anak-anaknya sibuk bermain game di tablet. Tetapi di meja makan percakapannya berlangsung sangat berbeda.

“Jadi, apa yang terjadi di sekolah hari ini?”tanya Ayah.

“Tidak, ada apa-apa,”jawab anak-anak serentak.

“Apakah Queency bermain basket dengan Cinta di sekolah?”tanya Ayah lagi.

“Ya…tapi lemparanku banyak yang nggak masuk.

“Sepertinya kamu harus banyak latihan.”jawab Ayah.

“Bagaimana kalau kita main basket setelah makan malam?”tanya Ayah.

“Ide keren Ayah”, jawab Quency.

Dan bagaimana kamu?tanya Ayah kepada Bara, puteranya.

“Apakah Mia, menyukai gaya rambut nanasmu?” tanya Ayah.

“Ya, aku rasa begitu, meskipun mukaku rasanya aneh di cermin,”jawab Bara.

“Ayah dulu waktu gaya rambut nanas itu namanya gaya duren. ”jawab Ayah.

Dan begitulah berlangsungnya percakapan tersebut, ayah mendengarkan keluhan putrinya, dan menolong putranya mengatasi pengalaman punya gaya rambut baru.

Jika kita simak dialog ketiga ayah di atas, para ayah memiliki tingkat keterlibatan yang berbeda dalam hidup anak-anaknya. Ayah yang terakhir itu tampaknya menyadari sejumlah detail dalam kehidupan anak-anaknya. Ia mengenal nama teman-teman anak-anaknya, tantangan mereka di sekolah. Kesadaran seperti itu akan memberikan dukungan emosional kepada anak-anaknya. Sebaliknya, ayah sebelumnya tampaknya tidak berminat mendengar cerita anaknya, dan ayah yang pertama itu seperti orang asing yang tidak mengenal anak perempuannya.

Ahli-ahli psikologis telah lama berpendapat bahwa keterlibatan seorang ayah dalam mengasuh anak itu sangat penting. Par ayah mempengaruhi anak-anak mereka dengan cara yang berbeda dengan para ibu. Riset membuktikan bahwa anak-anak yang ayahnya hadir dan terlibat dalam perawatan ketika mereka berumur 5 tahun akan tumbuh menjadi orang dewasa yang simpatik, dan penuh rasa welas asih (empati) terhadap orang lain. Anak-anak membutuhkan ayah, yang bukan sembarang ayah. Kualitas kehidupan anak-anak dapat ditingkatkan oleh ayah yang hadir secara emosional, mampu membesarkan hati anaknya, mampu menghibur di saat sedih. Anda sebagai laki-laki, mau menjadi ayah yang seperti apa? Ayah yang penuh ketidakpedulian atau ayah yang penuh perhatian? Semua di tangan Anda.

About Bas